Pesona Pantai Tanjung Api
antai Tanjung Api merupakan salah satu destinasi wisata alam unggulan yang berada di Desa Sebubus, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Pantai ini menghadap langsung ke Laut Natuna Utara dan dikenal sebagai salah satu kawasan pesisir yang masih alami dengan hamparan pasir putih, air laut yang jernih, gugusan batu granit, serta panorama laut yang luas. Suasana pantai yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, menjadikan Pantai Tanjung Api sebagai destinasi yang ideal untuk rekreasi, fotografi, berkemah, hingga wisata edukasi berbasis konservasi. Pantai ini dapat dijangkau sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Sambas atau sekitar 8 jam dari Pontianak melalui jalur darat.
Salah satu keunikan utama Pantai Tanjung Api adalah perannya sebagai kawasan konservasi penyu. Wilayah pesisir Paloh merupakan salah satu lokasi peneluran penyu terpenting di Indonesia. Dari tujuh spesies penyu di dunia, beberapa di antaranya memanfaatkan kawasan pesisir Paloh sebagai tempat bertelur, sehingga kawasan ini memiliki nilai ekologis yang sangat tinggi. Upaya pelestarian dilakukan oleh masyarakat melalui Konservasi Penyu Pokmaswas Kambau Borneo yang mengelola penetasan telur, perawatan tukik (anak penyu), hingga kegiatan pelepasan tukik ke laut. Program konservasi tersebut sekaligus menjadi daya tarik wisata edukasi yang memberikan pengalaman kepada wisatawan untuk mengenal pentingnya pelestarian ekosistem pesisir.
Selain wisata konservasi, Pantai Tanjung Api menawarkan berbagai aktivitas wisata yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Wisatawan dapat berjalan menyusuri pantai, menikmati panorama matahari terbit maupun matahari terbenam, berfoto dengan latar batuan granit dan laut lepas, berkemah di tepi pantai, hingga mengikuti patroli malam bersama pengelola untuk mengamati penyu yang naik ke pantai dan bertelur pada musim tertentu. Aktivitas pelepasan tukik yang biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari juga menjadi pengalaman yang banyak diminati wisatawan, terutama pelajar dan keluarga.
Pengelolaan kawasan wisata dilakukan oleh masyarakat melalui Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) dan kelompok sadar wisata dengan mengedepankan konsep ekowisata berbasis masyarakat (community-based ecotourism). Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga menjaga kelestarian lingkungan, melindungi habitat penyu, serta memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal melalui penyediaan jasa wisata, pemandu, kuliner, dan usaha mikro.
Untuk menunjang kenyamanan wisatawan, kawasan Pantai Tanjung Api telah dilengkapi berbagai fasilitas seperti area parkir, toilet umum, musala, tempat makan, gazebo, area swafoto, area berkemah, serta pusat informasi wisata. Pengunjung juga dapat mengikuti paket wisata edukasi konservasi yang dikelola masyarakat setempat. Harga tiket masuk relatif terjangkau sehingga destinasi ini menjadi pilihan wisata alam yang ramah bagi berbagai kalangan.
Meskipun memiliki potensi wisata yang besar, pengembangan Pantai Tanjung Api masih menghadapi tantangan berupa peningkatan aksesibilitas, penyediaan infrastruktur pendukung, promosi digital, serta pengelolaan jumlah wisatawan agar tidak mengganggu habitat satwa liar. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku pariwisata menjadi faktor penting dalam mewujudkan Pantai Tanjung Api sebagai destinasi ekowisata yang berkelanjutan dan berdaya saing di Kalimantan Barat.
Pantai ini dapat ditemukan di Google Maps sebagai Pantai Tanjung Api dan buka selama 24 jam, meskipun aktivitas konservasi penyu umumnya mengikuti jadwal yang telah ditentukan oleh pengelola setempat.
Aktivitas Menarik
Pelepasan Anak Tukik
Aktivitas pelepasan tukik adalah kegiatan konservasi yang dilakukan dengan cara melepaskan anak penyu (tukik) ke habitat alaminya di laut setelah menetas dari penangkaran atau sarang yang telah diamankan oleh kelompok konservasi. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peluang hidup tukik di alam liar sekaligus menjaga keberlanjutan populasi penyu yang semakin terancam akibat kerusakan habitat, perburuan, dan perubahan lingkungan pesisir. Secara ekologis, penyu memiliki siklus hidup yang panjang dan tingkat keberhasilan hidup yang rendah pada fase tukik. Oleh karena itu, program pelepasan tukik menjadi bagian penting dalam strategi konservasi berbasis masyarakat (community-based conservation) untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut. Sebelum dilepaskan, tukik biasanya dipelihara sementara di tempat penetasan hingga cukup kuat untuk berenang dan beradaptasi dengan lingkungan laut. Di kawasan pesisir Paloh, Kabupaten Sambas, termasuk Pantai Tanjung Api, aktivitas pelepasan tukik menjadi salah satu daya tarik wisata edukasi yang banyak diminati. Wisatawan, pelajar, maupun peneliti dapat ikut serta dalam kegiatan ini yang biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari di tepi pantai. Prosesnya diawali dengan penjelasan dari pengelola konservasi, kemudian tukik dibawa ke garis pantai dan dilepaskan secara perlahan agar dapat bergerak menuju laut secara alami. Selain memiliki nilai edukatif, kegiatan ini juga memberikan pengalaman emosional bagi pengunjung karena mereka dapat berkontribusi langsung dalam upaya pelestarian satwa laut. Aktivitas ini sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan mendukung keberlanjutan pariwisata berbasis konservasi di wilayah Kalimantan Barat.
Monitoring Penyu
Aktivitas monitoring penyu merupakan kegiatan pengamatan dan pengawasan terhadap keberadaan penyu di kawasan pesisir, khususnya pada saat musim bertelur. Kegiatan ini dilakukan untuk mencatat, melindungi, serta memastikan proses peneluran penyu berlangsung dengan aman tanpa gangguan dari manusia maupun predator alami. Monitoring biasanya dilaksanakan oleh kelompok konservasi, relawan, dan masyarakat setempat yang telah mendapatkan pelatihan khusus. Secara ilmiah, monitoring penyu merupakan bagian penting dari konservasi berbasis ekologi pesisir, karena data yang dikumpulkan digunakan untuk mengetahui pola migrasi, jumlah penyu yang bertelur, tingkat keberhasilan penetasan, serta kondisi habitat pantai. Informasi ini menjadi dasar dalam pengambilan keputusan pengelolaan kawasan konservasi agar populasi penyu tetap terjaga. Di kawasan Paloh, Kabupaten Sambas, termasuk wilayah Pantai Tanjung Api, aktivitas monitoring dilakukan secara rutin terutama pada malam hari karena penyu umumnya naik ke daratan untuk bertelur saat suasana gelap dan tenang. Petugas melakukan patroli menyusuri garis pantai untuk mendeteksi jejak penyu, menemukan lokasi sarang, serta mencatat data peneluran. Setelah sarang ditemukan, biasanya dilakukan pengamanan dengan cara relokasi atau pemasangan tanda agar telur terlindungi dari gangguan. Selain aspek konservasi, aktivitas ini juga menjadi bagian dari wisata edukasi. Wisatawan tertentu dapat ikut serta dalam kegiatan monitoring bersama pemandu lokal untuk belajar langsung tentang perilaku penyu dan pentingnya menjaga ekosistem laut. Kegiatan ini meningkatkan kesadaran lingkungan sekaligus memperkuat konsep ekowisata berkelanjutan di wilayah pesisir Kalimantan Barat.
Fasilitas Lengkap
toilet-bilas
parkir-luas
mushola
warung-makan
spot-foto
oleh-oleh
area-bermain
penginapan